Wawancara dengan mahasiswa bidikmisi ITB.

Tulisan ini diperoleh dari postingan facebook seorang dosen di ITB,semoga memberi inspirasi bagi para pembaca.

Tulisan Dosen : Bpk Agus Haris Widayat

Hari ini saya mewawancarai 15 dari 150 mahasiswa baru ITB yang mengajukan beasiswa bidikmisi. Skema beasiswa bidikmisi ini awalnya memang lahir di ITB yang kemudian dibawa ke Jakarta untuk diterapkan secara nasional.

Bulan ini ITB telah menetapkan 300 mahasiswa baru yang menerima beasiswa bidikmisi yaitu gratis UKT (uang kuliah tunggal) dan mendapatkan 100% subsidi biaya hidup bulanan.
Masih ada 150 mahasiswa lain lagi yang penetapan penerimaan beasiswanya ditunda karena harus melalui wawancara untuk verifikasi data keekonomian keluarga.

Semua pelamar beasiswa bidikmisi adalah dari kalangan yang tidak mampu, dan banyak yang berasal dari pelosok-pelosok daerah di seluruh provinsi. Dari yang saya wawancara ada yang ortunya kuli bangunan, tukang becak, tukang parkir, tukang ojek, petani di sawah sewaan, jualan jajanan anak-anak SD, dll.

Surat keterangan keekonomian keluarga mungkin dapat direkayasa, namun dengan metode wawancara tatap muka hampir semua bisa diselidiki dan diverifikasi. Saya yakin hampir semua yang saya wawancara tadi dari golongan yang benar-benar tidak mampu/miskin.

Satu pertanyaan yang selalu saya ajukan dan membuat trenyuh, “Bagaimana jika akhirnya gagal dapat beasiswa bidikmisi? Strategi pendanaan kuliah di ITB bagaimana?” Banyak yang menangis…. ada yang sesenggukan. “Kalau saya gagal dapat beasiswa bidikmisi saya akan kembali ke kampung membantu ayah di sawah”. Ada juga yang menjawab akan mencari kerjaan part-time untuk biaya kuliah sambil matanya berkaca-kaca tertunduk.

Kalau mata sudah berkaca-kaca, maka harus dimotivasi. Tidak perlu sedih, tidak ada mahasiswa ITB yang drop-out (DO) gara-gara tidak punya uang, walaupun berasal dari keluarga miskin. Ada banyak skema beasiswa di ITB, yang sekarang ini hanya skema bidikmisi, yang penting jangan pernah putus asa mencari kesempatan beasiswa.

Dari data yang diperoleh, hanya 30% mahasiswa ITB itu berasal dari keluarga dengan ekonomi menengah ke atas. Sisanya yang 70% berasal dari keluarga ekonomi menengah hingga miskin. Dari total mahasiswa ITB, sekitar 50% berasal dari keluarga dengan pendapatan total (brutto) orang tua 4,5 juta/bulan atau kurang.

Dari data di atas, jelas terlihat image selama ini yang terbangun bahwa yang bisa masuk ke ITB adalah anak orang kaya ternyata salah. Memang ada yang kaya, tapi ternyata hanya sebagian kecil. Dan dari sebagian besar golongan menengah ke bawah, tidak ada yang drop-out karena tidak mampu bayar atau kelaparan di Bandung.

Satu hal terakhir yang ingin saya ceritakan. Ketika mereka saya tanya, hal apa yang bisa membawa mereka jauh-jauh datang ke Bandung kuliah di ITB, sedangkan berasal dari keluarga-keluarga miskin? Banyak yang menjawab karena dimotivasi oleh guru SMA-nya. Ini luar biasa, guru yang bisa memotivasi calon mahasiswa dan meyakinkan orang tuanya yang mempunyai keterbatasan ekonomi untuk bisa merantau ke Bandung. Saya sangat hormat dengan guru-guru tersebut dan rasanya ada keinginan untuk berjumpa dengan mereka, karena tentu ada banyak ilmu yang bisa saya peroleh dari bapak/ibu guru tersebut.

Hal yang bisa disimpulkan adalah, besaran UKT ITB memang tinggi dan terletak di kota besar yang biaya hidupnya pun tinggi. Namun di ITB ada banyak sekali skema-skema beasiswa yang tersedia, sehingga ujung-ujungnya biaya kuliah (net) di ITB bisa jadi justru lebih rendah dari perguruan tinggi yang lain. Intinya…. jangan takut atau khawatir merantau ke Bandung gara-gara merasa tidak punya biaya untuk pergi dan kuliah di Bandung!

Tulisan dosen ITB : Agus Haris Widayat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s