Pendekatan dan Teknik Supervisi Akademik

PENDEKATAN SUPERVISI AKADEMIK

Pendekatan adalah cara atau perbuatan untuk mendekatkan diri kepada suat objek atau langkah-langkah menuju objek (Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, 2016).

Dalam hal ini pendekatan supervisi akademik adalah strategi untuk melakukan kegiatan supervisi akademik.

Supervisi akademik dapat dilaksanakan dengan dua cara atau pendekatan, yaitu pendekatan langsung (direct contact) dan pendekatan tidak langsung (indirect contact) (Sudjana, 2002).

Pendekatan langsung dapat disebut dengan pendekatan tatap muka, sementara pendekatan tidak langsung menggunakan perantara, seperti melalui surat menyurat, media massa, media elekronik, radio, kaset, internet dan lain-lain.

Pendekatan yang digunakan dalam menerapkan supervisi modern didasarkan pada prinsip-prinsip psikologis. Suatu pendekatan atau teknik pemberian supervisi, sebenarnya juga sangat bergantung kepada prototipe orang yang disupervisi.

Ketiga pendekatan di atas dijabarkan kembali seperti berikut ini:

1. Pendekatan langsung (direktif),

yaitu cara pendekatan terhadap masalah yang bersifat langsung. Kepala sekolah memberikan arahan langsung kepada pendidik. Sudah tentu pengaruh perilaku kepala sekolah lebih dominan.

2. Pendekatan tidak langsung (non-direktif),

yaitu cara pendekatan terhadap permasalahan yang menggunakan media perantara. Perilaku kepala sekolah dalam pendekatan non-direktif adalah: mendengarkan, memberi penguatan, menjelaskan, menyajikan, dan memecahkan masalah.

3. Satu pendekatan supervisi akademik lainnya adalah pendekatan kolaboratif,

yaitu pendekatan supervisi yang dilakukan oleh sesama guru (Abanil, 2014). Pendekatan kolaboratif ini menekankan prinsip bahwa sesama guru bertanggung jawab terhadap pertumbuhan profesional mereka, belajar kooperatif dan secara kolega, serta saling bekerja sama.

Selain ke-3 pendekatan supervisi akademik tersebut, terdapat 3 pendekatan lain dalam supervisi akademik menurut Achecon, Keith A, at al, 1997 seperti dikutip dalam Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2014: 78 adalah:

1. Scientific,

didasarkan atas data (hasil pengamatan dan pencatatan yang teliti, objektif dan valid) untuk selanjutnya diambil langkah perbaikan yang diperlukan.

2. Artistic,

dilakukan secara tidak langsung pada persoalan (to the point) tetapi kepala sekolah menggunakan seni tertentu. Pendekatan artistik merekomendasikan agar kepala sekolah turut mengamati, merasakan, dan mengapresiasikan pengajaran yang dilakukan oleh guru.

Langkah-langkah pendekatan artistik, yaitu:
  1. Ketika hendak berangkat ke lapangan, kepala sekolah tidak boleh mempunyai pretensi apa pun tentang pengajaran yang akan diamati.
  2. Melakukan pengamatan terhadap guru dengan cermat, teliti, utuh, menyeluruh serta berulang-ulang.
  3. Memberikan interpretasi atas hasil pengamatan secara formal, setelah pengajaran selesai.
  4. Menyusun hasil interpretasi dalam bentuk narasi.
  5. Menyampaikan hasil interpretasi yang sudah dinarasikan kepada guru.
  6. Menerima umpan balik dari guru terhadap pengamatan yang telah dilakukan.
3. Clinic,

didasarkan atas diagnosis kekurangan (kelemahan/penyakit) untuk langkah perbaikan selanjutnya (Kemdikbud, 2014).

Satu pendekatan tidak dapat diaplikasikan pada semua kondisi atau tujuan supervisi akademik. Satu pendekatan yang dipilih harus dapat memenuhi kebutuhan dan kesulitan individual guru (Abanil, 2014).

Oleh karena itu, memilih pendekatan merupakan proses harus dilakukan secara hati-hati, harus dipertimbangkan pendekatan mana yang efektif dan mengapa (Quiroz, 2015).

TEKNIK SUPERVISI AKADEMIK

Teknik supervisi adalah cara spesifik yang digunakan oleh supervisor untuk mencapai tujuan supervisi yang pada akhirnya dapat melakukan perbaikan proses pembelajaran yang sesuai dengan situasi dan kondisi. Menurut Gwyn seperti dikutip dalam Kementerian Pendidikan Nasional, 2010:23, ada dua macam teknik supervisi akademik, yaitu: individual dan kelompok (Kemdiknas, 2010b).

Teknik supervisi individual adalah pelaksanaan supervisi yang dilakukan terhadap guru secara perorangan. Supervisor berhadapan dengan seorang guru untuk mengetahui kualitas proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru tersebut. Teknik supervisi individual ini dapat dilakukan dengan lima cara, yaitu kunjungan kelas, observasi kelas, pertemuan individual, kunjungan antar kelas, dan menilai diri sendiri.

Berikut uraian ke-5 macam teknik supervisi individual.

1) Kunjungan kelas

Kunjungan kelas adalah teknik pembinaan guru oleh kepala sekolah sebagai supervisor untuk mengamati proses pembelajaran di kelas. Tujuannya adalah untuk menolong guru mengatasi kesulitan dan masalah di dalam kelas.

Kunjungan kelas dapat dilaksanakan:

  • dengan atau tanpa pemberitahuan terlebih dahulu kepada guru yang hendak disupervisi, tergantung sifat tujuan dan masalahnya,
  • atas permintaan guru yang akan disupervisi,
  • bila instrumen atau catatan-catatan sudah disiapkan, dan
  • setelah menentukan tujuan kunjungan kelas.

Ada empat tahap dalam melaksanakan kunjungan kelas.

1. Tahap persiapan (Pra Observasi/Pertemuan Awal)

Pada tahap ini, Kepala Sekolah merencanakan waktu dan sasaran, menyiapkan instrumen, dan cara mengobservasi proses pembelajaran. Tahapan ini dimaksudkan untuk : menciptakan suasana akrab dengan guru; membahas persiapan yang dibuat oleh guru dan membuat kesepakatan mengenai aspek yang menjadi fokus pengamatan; menyepakati instrumen observasi yang akan digunakan.

2. Tahap pengamatan selama kunjungan (Obervasi/Pengamatan Pembelajaran)

Pada tahap ini, Kepala Sekolah mengimplementasikan perencanaan supervisi akademikt, yaitu mengamati jalannya proses pembelajaran. Pada Tahapan ini hal yang perlu diperhatikan oleh Kepala Sekolah adalah : pengamatan difokuskan pada aspek yang telah disepakati; menggunakan instrumen observasi; disamping instrumen perludibuat cacatan (fieldnotes);catatan observasi meliputi perilaku guru dan siswa;tidak mengganggu proses pembelajaran.

3. Tahap akhir kunjungan. (Pasca Observasi/ Pertemuan Balikan)

Pada tahap ini, Kepala Sekolah bersama guru mengadakan perjanjian untuk membicarakan hasil-hasil observasi, hal –hal yang perlu diperhatikan oleh Kepala Sekolah pada tahap ini adalah : dilaksanakan segera setelah observasi; tanyanyak bagaimana pendapat guru mengenai proses pembelajaran yang baru saja berlangsung; tunjukan data hasil observasi (instrumen dan catatan); beri kesempatan guru mencermati dan menganalisisnya; diskusikan secara terbuka hasil observasi terutama pada aspek yang telah disepakai atau dikontrak (berikan penguatan terhadap penampilan guru, hindari kesan menyalahkan, dan sahakan guru mennemukan sendiri kekurangannya); berikan dorongan moral bahwa guru mampu memperbaiki kekurangannya; tentukan bersama rencana pembelajaran dan supervisi berikutnya.

4. Tahap terakhir adalah tahap tindak lanjut.

Hasil supervisi perlu ditindaklanjuti agar memberi kan dampak yang nyata untuk meningkatkan profesionalisme guru. Dampak nyata ini diharapkan dapat dirasakan masyarakat dan stakeholder. Tindaklanjut tersebut berupa penguatan dan penghargaan diberikan kepada guru yang telah memenuhi standar. Motivasi diberikan kepada guru yang belum memenuhi standar dan diberikan kesempatan untuk mengikuti pelatihan lebih lanjut.

Dalam melaksanakan kunjungan kelas, digunakan enam kriteria yaitu:

  • memiliki tujuan-tujuan tertentu;
  • mengungkapkan aspek-aspek yang dapat memperbaiki kemampuan guru;
  • menggunakan instrumen observasi untuk mendapatkan data yang obyektif;
  • terjadi interaksi antara pembina dan yang dibina sehingga menimbulkan sikap saling pengertian;
  • pelaksanaan kunjungan kelas tidak menganggu proses pembelajaran; dan
  • pelaksanaannya diikuti dengan program tindak lanjut.

2) Observasi kelas

Observasi kelas adalah mengamati proses pembelajaran secara teliti di kelas. Tujuannya adalah untuk memperoleh data objektif aspek-aspek situasi pembelajaran, kesulitan-kesulitan guru dalam usaha memperbaiki proses pembelajaran.

Secara umum, aspek-aspek yang diobservasi adalah:

a. usaha-usaha dan aktivitas guru-siswa dalam proses pembelajaran,
b. cara menggunakan media pengajaran
c. variasi metode,
d. ketepatan penggunaan media dengan materi
e. ketepatan penggunaan metode dengan materi, dan
f. reaksi mental para siswa dalam proses belajar mengajar.

Pelaksanaan observasi kelas ini melalui tahap:

a. persiapan,
b. pelaksanaan,
c. penutupan,
d. penilaian hasil observasi; dan
e. tindak lanjut.

Supervisor dalam observasi kelas sudah siap dengan instrumen observasi, menguasai masalah dan tujuan supervisi, serta observasi tidak mengganggu proses pembelajaran.

3) Pertemuan Individual

Pertemuan individual adalah satu pertemuan, percakapan, dialog, dan tukar pikiran antara supervisor guru.

Tujuannya adalah:

  • memberikan kemungkinan pertumbuhan jabatan guru melalui pemecahan kesulitan yang dihadapi;
  • mengembangkan hal mengajar yang lebih baik;
  • memperbaiki segala kelemahan dan kekurangan pada diri guru; dan
  • menghilangkan atau menghindari segala prasangka.

Terdapat empat jenis pertemuan (percakapan) individual (Swearingen, 1962) sebagai berikut:

  • classroom-conference, yaitu percakapan individual yang dilaksanakan di dalam kelas ketika murid-murid sedang meninggalkan kelas (istirahat);
  • office-conference, yaitu percakapan individual yang dilaksanakan di ruang kepala sekolah atau ruang guru, di mana sudah dilengkapi dengan alat-alat bantu yang dapat digunakan untuk memberikan penjelasan pada guru;
  • casual-conference, yaitu percakapan individual yang bersifat informal, yang dilaksanakan secara kebetulan bertemu dengan guru;
  • observational visitation, yaitu percakapan individual yang dilaksanakan setelah supervisor melakukan kunjungan kelas atau observasi kelas.

Pada pelaksanaan pertemuan individual, supervisor harus berusaha mengembangkan segi-segi positif guru, mendorong guru mengatasi kesulitan-kesulitannya, memberikan pengarahan, dan melakukan kesepakatan terhadap hal-hal yang masih meragukan.

Pelaksanaan supervisi akademik dengan teknik pertemuan individual sebaiknya melalui tahapan sebagai berikut:

  • Persiapan: mengumpulkan informasi tentang guru yang akan disupervisi, mengidentifikasi masalah guru, dan menetapkan tujuan supervisi.
  • Pelaksanaan: mengkonfirmasi permasalahan yang dihadapi guru dan tujuan supervisi, mendiskusikan permasalahan yang dihadapi guru dan beberapa alternatif pemecahan masalahan.
  • Akhir pertemuan: menyepakati waktu dan tempat pertemuan untuk pemecahan masalah
  • Tindak lanjut: menindaklanjuti kesepakatan.

4) Kunjungan antar kelas

Kunjungan antar kelas adalah guru yang satu berkunjung ke kelas yang lain di sekolah itu sendiri. Tujuannya adalah untuk berbagi pengalaman dalam pembelajaran.

Cara-cara melaksanakan kunjungan antar kelas:

  •  harus direncanakan;
  • guru-guru yang akan dikunjungi harus diseleksi;
  • tentukan guru-guru yang akan mengunjungi;
  • sediakan segala fasilitas yang diperlukan;
  • supervisor hendaknya mengikuti acara ini dengan pengamatan yang cermat;
  • adakah tindak lanjut setelah kunjungan antar kelas selesai, misalnya dalam bentuk percakapan pribadi, penegasan, dan pemberian tugas-tugas tertentu; g. segera aplikasikan ke sekolah atau ke kelas guru bersangkutan, dengan menyesuaikan pada situasi dan kondisi yang dihadapi;
  • adakan perjanjian-perjanjian untuk mengadakan kunjungan antar kelas berikutnya.

5) Menilai diri sendiri

Menilai diri adalah penilaian diri yang dilakukan oleh diri sendiri secara objektif. Untuk maksud itu diperlukan kejujuran diri sendiri.

Cara-cara menilai diri sendiri diuraikan sebagai berikut.

  • Suatu daftar pandangan atau pendapat yang disampaikan kepada peserta didik untuk menilai pekerjaan atau suatu aktivitas.

Biasanya disusun dalam bentuk pertanyaan baik secara tertutup maupun terbuka, dengan tidak perlu menyebut nama.

  • Menganalisa tes-tes terhadap unit kerja.
  • Mencatat aktivitas peserta didik dalam suatu catatan, baik mereka bekerja secara individu maupun secara kelompok.

Teknik supervisi kelompok adalah satu cara melaksanakan program supervisi yang ditujukan pada dua orang atau lebih. Guru-guru yang diduga, sesuai dengan analisis kebutuhan, memiliki masalah atau kebutuhan atau kelemahan-kelemahan yang sama dikelompokkan atau dikumpulkan menjadi satu/bersama-sama. Kemudian kepada mereka diberikan layanan supervisi sesuai dengan permasalahan atau kebutuhan yang mereka hadapi, ada tiga belas teknik supervisi kelompok yaitu: kepanitiaan-kepanitiaan, kerja kelompok, laboratorium dan kurikulum, membaca terpimpin, demonstrasi pembelajaran, darmawisata, kuliah/studi, diskusi panel, perpustakaan, organisasi profesional, buletin supervisi, pertemuan guru, lokakarya atau konferensi kelompok.

Untuk menetapkan teknik-teknik supervisi akademik yang tepat, seorang kepala sekolah harus mengetahui aspek atau bidang keterampilan yang akan dibina dan karakteristik setiap teknik di atas serta sifat atau kepribadian guru, sehingga teknik yang digunakan betul-betul sesuai dengan guru yang sedang dibina melalui supervisi akademik.
Sehubungan dengan kepribadian guru, Lucio dan McNeil seperti dikutip dalam Kementerian Pendidikan Nasional, 2007:43 menyarankan agar kepala sekolah mempertimbangkan enam faktor kepribadian guru, yaitu kebutuhan guru, minat guru, bakat guru, temperamen guru, sikap guru, dan sifat-sifat somatik guru/aktivitas fisik (Kemdiknas, 2007).

*Tulisan ini diambil dari Modul K13 Kepala Sekolah tahun 2018 – Jenjang SMA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s