Konsep manajemen perubahan, budaya sekolah, dan kepemimpinan pembelajaran

Konsep Manajemen Perubahan

Konsep Manajemen Perubahan Kotter (1990) menyatakan bahwa manajemen berbeda dengan kepemimpinan. Buah kerja manajemen adalah konsistensi dan kedisiplinan. Proses kerja lebih fokus pada administrasi yang meliputi:

  • Perencanaan dan perumusan anggaran;
  • Pengembangan struktur organisasi dan pembagian tugas;
  • Pengendalian dan pemecahan masalah.

Menurut Tim Creacey, Director of Research and Development Prosci Research (2011) manajemen perubahan adalah”Change management: the process, tools and techniques to manage the people-side of change to achieve a required business outcome. Ultimately, the goal of change is to improve the organization by altering how work is done”.

Manajemen perubahan adalah suatu proses, alat dan teknik untuk mengelola orang-orang untuk berubah dalam rangka mencapai tujuan bisnis yang telah ditentukan. Tujuan utama dari perubahan itu adalah untuk meningkatkan kinerja organisasi dengan cara mengubah bagaimana cara mengerjakan pekerjaan yang lebih baik.

Berdasarkan beberapa definisi tersebut, dapat dikemukakan bahwa, manajemen perubahan adalah suatu pendekatan, alat, teknik dan proses pengelolaan sumber daya untuk membawa organisasi dari keadaan sekarang menuju keadaan baru yang diinginkan, agar kinerja organisasi menjadi lebih baik. Dalam organisasi, perubahan itu meliputi individu, tim, organisasi, struktur, proses, pola pikir dan budaya kerja. Hal ini dapat digambarkan seperti gambar 1. Berikut

Gambar1.Manajemen Perubahan

Berdasarkan gambar 1 di atas, terlihat bahwa

manajemen perubahan adalah proses pengelolaan sumber daya untuk membawa keadaan sekarang ini menuju keadaan baru yang diharapkan.

Kalau dikaitkan dengan organisasi sekolah, maka dapat dinyatakan bahwa,

manajemen perubahan sekolah adalah proses pengelolaan sumber daya sekolah untuk membawa keadaan sekolah sekarang ke kondisi yang diharapkan.

Manajemen perubahan sering diartikan sebagai manajemen transisi dan transformasi. Kata transformasi berasal dari kata to transform, yang bermakna mentransformasikan atau mengubah sesuatu menjadi bentuk lain yang berbeda, misalnya mengubah struktur organisasi sekolah, kultur sekolah, tugas-tugas, teknologi, dan perilaku warga sekolah (Manning & Curtis, 2003). Oleh karena itu model kepemimpinan yang sesuai adalah kepemimpinan transformasional.

Manajemen perubahan sering disebut dengan manajemen transisi dan manajemen inovasi. Dikatakan manajemen transisi, karena mengelola keadaan yang bersifat transisi dari kondisi lama menuju kondisi baru. Dikatakan manajemen inovasi, karena tujuan dari perubahan adalah untuk pembaharuan, dari yang lama ke yang baru supaya lebih baik

Perbedaan utama antara manajemen perubahan dengan manajemen konvensional/biasa terletak pada adanya faktor-faktor kuat yang menghambat perubahan.Faktor-faktor penghambat tersebut perlu dikelola agar berubah menjadi faktor pendorong perubahan.Karena adanya hambatan, maka kemungkinan perjalanan dalam mencapai tujuan perubahan ditunjukkan pada gambar 2.Berdasarkan gambar 2 , pencapaian perubahan yang efektif ditunjukkan dalam lintasan 1.

Lintasan 1 merupakan garis lurus, garis yang terpendek untuk mencapai visi perubahan.

Lintasan 2, 3, dan 4, adalah suatu lintasan untuk mencapai visi yang tidak efisien, karena harus berbelok-belok baru mencapai tujuan.

Lintasan 5, adalah suatu contoh manajemen perubahan yang tidak mencapai sasaran.

Gambar 2 Berbagai kemungkinan dalammencapai visi perubahan

Setiap perubahan, baik fisik maupun sosial dan budaya berada pada konteks hambatan dan daya dorong. Pada gambar di atas menunjukkan bahwa setiap terjadi perubahan (bergerak atau direm mendadak) badan akan melakukan perlawanan.

Strategi Mencapai Perubahan

Pelaksanaan manajemen perubahan dapat dilakukan dengan berbagai strategi yaitu;

  • 1. Pendidikan dan pelatihan.

Memberikan penjelasan secara tuntas tentang latar belakang, tujuan, dan akibat adanya perubahan serta mengomunikasikan berbagai perubahan bentuk perubahan.

  • 2. Manipulasi dan Kooptasi.

Manipulasi adalah menutupi kondisi yg sesungguhnya. Misalnya memelintir (twisting) fakta agar tampak lebih menarik, tidak mengutarakan hal yang negatif,dsb. Kooptasi dilakukan dengan cara memberikan kedudukan penting kepada pimpinan penentang perubahan dalam mengambil keputusan. Teknik ini digunakan bila taktik lain tidak akan berhasil atau mahal.

  • 3. Negosiasi dan persetujuan,

yaitu membangun inisiatif perubahan dengan bersedia menyesuaikan perubahan dengan kebutuhan dan kepentingan para penolak aktif atau potensial. Cara ini biasa dilakukan jika yang menentang mempunyai kekuatan yang cukup besar.

  • 4. Paksaan.

  1. Berikan ancaman dan jatuhkan hukuman bagi siapapun yang menentang dilakukannya perubahan.
  2. Bila kecepatan adalah esensial, dan inisiator perubahan mempunyai kekuasaan cukup besar.
  • 5. Mengembangkan

Jika staf (tenaga pendidik dan kependidikan) merasa belum mampu melakukan perubahan dikarenakan keterbatasan kompetensinya, Kepala sekolah melakukan pengembangan kompetensi stafnya sesuai dengan kondisi dan tuntutan perubahan.

Strategi yang dapat dilakukan kepala sekolah diantaranya adalah;

  • Melakukan bimbingan,
  • Melakukan benchmarking pada institusi/seolah lain yang mempunyai kemampuan lebih baik,
  • Memberikan pelatihan-pelatihan.

Taktik ini digunakan bila penolakan berkembang sebagai hasil ketidakmampuan staf untuk beradaptasi.

  • 6. Memberdayakan

Kepala sekolah sesuai dengan lingkup tugasnya dalam mengelola sekolah dapat memberdayakan stafnya sesuai dengan struktur organisasi dan tupoksinya dalam merespon perubahan yang terkait dengan tugas lembaga.

Perubahan yang telah dilaksanakan harus dikontrol agar rencana perubahan yang telah ditetapkan dapat dilaksanakan dan terwujud hasilnya. Hussey (2000) menyatakan terdapat paling tidak 10 (sepuluh) penyebab kegagalan dalam melaksanakan perubahan sebagai berikut:

  1. Implementasi memerlukan waktu lebih lama dari yang diperkirakan;
  2. Banyak masalah yang tidak teridentifikasi sebelumnya;
  3. Aktivitas perubahan tidak cukup terorganisir;
  4. Aktivitas dan krisis bersaing memecahkan perhatian sehingga keputusan dan rencana tidak dilaksanakan sebagimana mestinya;
  5. Manajer kurang memiliki kapabilitas untuk melakukan perubahan;
  6. Instruksi dan pelatihan yang diberikan kepada sub-ordinat tidak cukup;
  7. Faktor eksternal yang tidak terkendali berdampak serius terhadap implementasi perubahan;
  8. Manajer unit kerja tidak cukup dalam memberikan arahan dan lemah dalam kepemimpinan;
  9. Tugas pokok implementasi tidak terdefinisikan secara rinci;
  10. Sistem informasi yang tersedia tidak cukup untuk memonitor implementasi.

Proses kontrol pada dasarnya penjaminan proses dan hasil. Perubahan merupakan rangkaian dari kegiatan manajemen perubahan. Kegiatan ini dilakukan dalam rangka memastikan bahwa proses perubahan berjalan sesuai dengan program yang telah ditetapkan. Adapun bentuk dari penjaminan proses dan hasil perubahan ini bisa berupa kegiatan monitoring/pengawasan dan evaluasi keterlaksanaan program perubahaan yang telah ditentukan.

Konsep Budaya Sekolah

Kebudayaan menurut Koentjaraningkat (2000) merupakan keseluruhan sistemgagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan miliknya melalui belajar.

Budaya sekolah adalah nilai-nilai dominan yang mendukung atau falsafah yang menuntun pengembangan kebijakan sekolah terhadap semua komponen sekolah termasuk stakeholders pendidikan.

Diantra komponen yang dimaksud adalahpelaksanaan pekerjaan serta asumsi atau kepercayaan dasar yang dianut oleh warga sekolah. Budaya sekolah berkembang merujuk pada suatu sistem nilai, kepercayaan dan norma-norma yang diterima secara bersama, serta dilaksanakan dengan penuh kesadaran sebagai perilaku alami. Budaya sekolah dibentuk oleh lingkunganyang menciptakan pemahaman yang sama pada seluruh unsur dan stakeholders sekolah. Kepala sekolah, pendidik, tenaga kependidikan,peserta didik, bahkan masyarakat dapat memberntuk opini yang sama terhadap sekolah.

Dalam proses membentuk budaya sekolah dilalui dengan beberapa tingkatan seperti terlihat dalam gambar 3

Gambar3Level Budaya EdgarShien

Budaya sekolah, sebagaimana budaya organiasi lainnya, menurut Edgar Shien meliputi unsur yang terlihat dan yang tidak terlihat atau artefak. Level paling dalam adalah asumsi-asumsi, unsur ini tak kasat mata. Level berikutnya adalah nilai yang diyakini yang dapat dilihat dalam berbagai pernyataan manajemen. Visi-misi, tujuan, peran, nilai yang diyakini, target yang ditetapkan yang mencerminkan keyakinan menjadi bukti yang dapat dilihat. Level yang transparan, dalam bentuk fisik berwujud dalam bentuk artefak. Atefak kebersihan sekolah, simbol-simbol semangat, cara siswa seragam siswa, kesigapan siswa melaksanakan upacara bendera, deretan piala yang dipampang di lemari sekolah atas hasil prestasi siswa merupakan bagian dari sistem budaya sekolah.

Mengubah budaya sekolah seperti halnya yang dinyatakan Forbes merupakan tantangan tugas pemimpin yang ringan.Dalam tugas itu terkandung tujuan, peran, proses, nilai-nilai, praktik komunikasi, sikap, dan asumsi-asumsi dalam orgnisasi yang diyakini dapat diwujudkan.Setiap elemen memiliki keterkaitan fungsional yang bisa saling menunjang, tetapi bisa juga saling menghambat.

Contoh nyata, warga sekolah menyerap pengetahuan baru untuk mendorong terjadi pembaharuan.Karena itu, kemajuan hanya terjadi dalam sementara waktu.Pada tahap selanjutnya budaya dapat mengambil alih kendali perubahan,dan dapat terjadi langkah pembaharuan ditarik kembali ke budaya organisasi yang ada danperubahan pun terhenti.

Mengubah kultur adalah usaha sekala besar organisasi, perubahan meliputi perubahan pikiran, asumsi, nilai, proses, hingga sikap yang berdampak pada keberhasilan.

Secara empirik menurut Forbes bahwa keberhasilan itu ada pada peran pemimpin dalam mengaktualisasikan visi-misi dalam bentuk pergerakan perubahan. Sementara itu, manajemen berfungsi untuk mengontrol dan memastikan bahwa perubahan budaya mengarah pada tujuan yang diharapkan. Tanpa kontrol yang efektif mengubah budaya bisa gagal total.

Agar pergerakan perubahan budaya terjadi secara efektiv, menurut Partnership For Global Learning (2012) dalam Modul Manajemen dan Kepemimpinan Sekolah (Pusbangtendik kemdikbud, 2015) harus memenuhi 5 indikator berikut:

  • Memusatkan fokus pembelajaran pada hasil belajar peserta didik;
  • Menjamin keseimbangan antara kegiatan belajar individual, kolaborasi, dan belajar dalam interaksi sosial;
  • Selaras dengan kebutuhan pengembangan motivasi peserta didik;
  • Sensitif terhadap perbedaan individu;
  • Menantang peserta didik dengan tidak memberikan beban lebih dari kapasitasnya.

Menurut Fullan (2001) kepala sekolah menghadapi tantangan dalam mengelola masalah yang makin kompleks. Ketidak pastian menyebabkan krisis datang tanpa diduga. Daya kendalinya selalu harus didasari dengan dukungan pemikiran yang handal. Gelombang masalah yang datang silih berganti. Karena itu, kepala sekolah harus selalu memperkaya dan membaharui idenya secara inovatif agar mendukung kebijakan dan tindakan yang efektif sehingga dapat mencapai tujuan.

Tantangan pengembangan budaya pada prinsipnya meliputi usaha penguatan pikiran, asumsi, keyakinan, tujuan sehingga kepemimpinan sekolah dalam menunjang perubahan budaya harus berkonsentrasi pada hal-hal berikut:

  1. Budaya merupakan norma, nilai, keyakinan, ritual, gagasan, tindakan, dan karya sebagai hasil belajar;
  2. Perubahan budaya mencakup proses pengembangan norma, nilai, keyakinan, dan tradisi sekolah yang dipahami dan dipatuhi warga sekolah yang dikembangkan melalui komunikasi dan interaksi sehingga mengukuhkan partisipasi;

Untuk dapat mengubah budaya sekolah memerlukan pemimpin inspiratif, inovatif dan keteladanan dalam mengembangkan perubahan perilaku melalui proses belajar;

  1. Efektivitas perubahan budaya sekolah dapat terwujud dengan mengembangkan sekolah sebagai organisasi pembelajar melalui peran kepala sekolah dalam aktivitas mempengaruhi, menggerakan, memotivasi, memberdayakan, dan memastikan bahwa semua pihak kembali ke kenyamanan kebiasaan lama;
  2. Mengembangkan budaya sekolah memerlukan ketekunan, keharmonisan, dan perjuangan tiada henti karena budaya di sekitar sekolah selalu berubah ke arah yang tidak selalu sesuai dengan harapan sekolah.

Strategi Pengembangan Budaya Sekolah

Terkait pengembangan budaya sekolah bahwa tugas kepala sekolah meliputi tiga bidang utama, yaitu:

  • mengembangkan keharmonisan hubungan yang direalisasikan dalam komunikasi, kolaborasi untuk meningkatkan partisipasi.
  • mengembangkan keamanan baik secara psikologis, fisik, sosial, dan keamanan kultural. Sekolah menjaga agar setiap warga sekolah nyaman dalam komunitasnya.
  • mengembangkan lingkungan sekolah yang agamis, lingkungan fisik sekolah yang bersih, indah, dan nyaman, mengembangkan lingkungan sekolah yang kondusif secara akademik. Pendidik dan peserta didik memiliki motif berprestasi serta keyakinan yang tinggi untuk mencapai target belajar yang bernilai dengan suasana yang berdisiplin dan kompetitif.

Dengan menggunakan model pendekatan strategik, sekolah dapat melaksanakan empat langkah strategis berikut:

Pertama:

Analisis Lingkungan eksternal dan internal. Pada tahap ini apabila dilihat dari model analisis lingkungan adalah mengidentifikasi peluang dan ancaman yang datang dari budaya sekitar sekolah. Di samping itu analisis lingkungan diperlukan untuk mengidentifikasi kekuatan kelemahan sehingga dapat ditentukan masalah prioritas.

Kedua:

Merumuskan strategi yang meliputi penetapan visi-misi yang menjadi arah pengembangan, tujuan pengembangan, stategi pengembangan, dan penetapan kebijakan. Arah pengembangan dapat dijabarkan dari visi-dan misi menjadi indikator pada pencapaian tujuan.

Contoh dalam pengembangan keyakinan akan dibuktikan dengan sejumlah target yang tinggi pada setiap indikator pencapaian. Contoh ini dapat dijabarkan lebih lanjut pada model operasional penguatan nilai kerja sama dan yang kompetitif. Misalnya sekolah membagi kelompok kerja dengan semangat kebersamaan, namun antar kelompok dikondisikan agar selalu berkompetisi untuk mencapai target yang terbaik.

Ketiga;

Implementasi strategi, langkah ini harus dapat menjawab bagaimana caranya sekolah melaksanakan program. Jika pada model pertama sekolah berencana untuk mengembangkan nilai kebersamaan melalui pelaksanaan kegiatan kolaboratif dan kompetitif, maka sekolah hendaknya menyusun strategi pada kegiatan yang mana yang dapat dikolaborasikan dan dikompetisikan.

Sekolah dapat memilih bidang yang akan dikolaborasikan bersifat kompetitif. Contoh, sekolah berencana untuk mengembangkan lingkungan fisik sekolah yang nyaman. Pada kegiatan ini diperkukan nilai kebersamaan, semangat berkolaborasi, semangat berpartisipasi dari seluruh pemangku kepentingan di sekolah.

Pengembangan nilai harus diwujudkan dalam kepatuhan atas kesepakatan yang dituangkan dalam peraturan. Oleh karena itu pengembangan budaya sekolah sangat erat kaitannya dengan peraturan dan kepatuhan seluruh warga sekolah pada pelaksanaan kegiatan sehari-hari di sekolah.

Pada langkah ketiga, peran kepala sekolah yang penting adalah;

  • menetapkan kebijakan atas kesepakatan bersama;
  • Merealisasikan strategi;
  • Melaksanakan perbaikan proses berdasarkan data yang diperoleh dari pemantauan;
  • Melakukan evaluasi kegiatan berbasis data hasil pemantauan;

Keempat

Monitoring dan evaluasi. Langkah ini merupakan bagian dari sistem penjaminan mutu. Kepala sekolah melalui monitoring memenuhi kewajiban untuk memastikan bahwa proses pelaksanaan kegiatan sesuai dengan rencana. Jadwal pelaksanaan memenuhi target waktu. Tahap pelaksanaan sesuai dengan yang direncanakan. Lebih dari itu hasil yang diharapkan sesuai dengan target.

Jika dalam proses pelaksanaan dan hasil yang dicapai meleset dari target maka kepala sekolah segera melakukan perbaikan proses agar hasil akhir yang dicapai sesuai dengan yang diharapkan.

Perhatikan data elemen perubahan yang menjadi tantangan kepala sekolah dalam mengubah kebiasaan pendidik dalam mengendalikan proses pembelajaran. Terdapat tradisi yang melekat pada pelaksanaan pembelajaran dan ini dapat dilihat dalam banyak pengalaman guru mengajar di dalam kelas. Pembelajaran berpusat pada guru. Tantangan baru mengubah tradisi itu menjadi pembelajaran berpusat pada peserta didik.

Upaya pengembangan budaya sekolah seyogyanya mengacu kepada beberapa prinsip berikut ini.

  • Berfokus pada Visi, Misi dan Tujuan Sekolah;
  • Penciptaan Komunikasi Formal dan Informal;
  • Memperhitungkan resiko karena setiap perubahan mengandung resiko yang harus ditanggung;
  • Menggunakan strategi yang jelas dan terukur;
  • Memiliki komitmen yang kuat;
  • Mengevaluasi keterlaksanaan dan keberhasilan budaya sekolah.

Konsep Kepemimpinan Pembelajaran

Kotter (1990) juga membedakan antara kepala sekolah sebagai pemimpin dan sebagai manajer.

Tugas pemimpin adalah:

  1. menentukan arah pengembangan sekolah, mengembangkan visi masa depan, strategi jangka panjang yang menghasilkan perubahan sesuai dengan visi,
  2. menyelaraskan hubungan orang-orang–berkomunikasi dalam mengembangkan kerja sama, menciptakan kerja sama untuklebih memahami visi dan membangun komitmen untuk mewujudkannya,
  3. Memotivasi dan menginspirasi pendidik, tenaga kependidikan, dan peserta didik dapat bergerak ke arah yang sesuai dengan tujuan.

Kepala sekolah secara tradisional memiliki tugas meningkatkan efektivitas pembelajaran. Untuk itu kepala sekolah perlu merumuskan tujuan dengan jelas, mengalokasikan sumber daya untuk menunjang proses pembelajaran, mengelola kurikulum, memonitor rencana pembelajaran, dan mengevaluasi guru.

 

Pada perkembangan selanjutnya pimpinan pembelajaran memilik tugas mengembangakan teknologi informasi dalam menunjang pembelajaran, membina karier pendidik melalui pengembangan keprofesian, dan menetapkan keputusan berbasis data (Larry Lasway; 2002 dalam Modul Manajemen dan Kepemimpinan Sekolah (Pusbangtendik kemdikbud, 2015))

 

Apabila kepala sekolah berperan sebagai pemimpin pembelajaran dengan bersunguh-sungguh, maka mereka akan bebas dari tugas birokrasi karena ia akan fokus berperan untuk keberhasilan belajar mengajar (Billy Jenkin, 2009 dalam Modul Manajemen dan Kepemimpinan Sekolah (Pusbangtendik kemdikbud, 2015)) Pernyataan ini mengandung pesan bahwa kepala sekolah mesti kreatif dalam mencurahkan perhatian pada peningkatan guru mengajar dan siswa belajar.

Mereka tidak sekedar mengikuti petunjuk namun berorientasi pada visi untuk menghasilkan mutu lulusan yang sesuai dengan kebutuhan siswa yang selaras dengan nilai-nilai luhur yang telah berlaku sejak masa lalu, untuk masa kini dan masa depannya.

Kepemimpinan pembelajaran merupakan tindakan kepala sekolah yang mengarah pada terciptanya iklim sekolah yang mampu mendorong terjadinya peningkatan mutu pengelolaan internal sekolah sehingga memungkinkan terselenggaranya proses pembelajaran yang merangsangpara siswa untuk mencapai prestasi belajar yang tinggi. Tujuan peningkatan peran pemimpin pembelajaran yang efektif terlibat dalam masalah-masalah pengelolaan kurikulum dan pembelajaran sehingga mempengaruhi prestasi belajar siswa (Cotton, 2003 dalam Modul Manajemen dan Kepemimpinan Sekolah (Pusbangtendik kemdikbud, 2015)).

Tujuan kepemimpinan pembelajaran adalah untuk memfasilitasi pembelajar agar terjadi peningkatan prestasi belajar, kepuasan belajar, motivasi belajar, keingintahuan, kreativitas, inovasi, jiwa kewirausahaan, dan kesadaran untuk belajar sepanjang hayat karena ilmu pengetahuan, teknologi dan seni berkembang dengan pesat.

Kepemimpinan pembelajaran sangat penting agar kepala sekolah berdaya dalam:

  1. meningkatkan prestasi belajar peserta didik secara signifikan;
  2. mendorong dan mengarahkan warga sekolah untuk meningkatkan prestasi belajar peserta didik;
  3. memfokuskan kegiatan-kegiatan warga sekolah untuk menuju pencapaian visi, misi, dan tujuan sekolah; dan
  4. membangun komunitas belajar warga dan bahkan mampu menjadikan sekolahnya sebagai sekolah pembelajar (learning school).

Kepala sekolah memiliki tanggung jawab menjamin seluruh siswa belajar dan pendidik melaksanakan tugas mendidik, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik.Kepala sekolah memastikan bahwa fokus belajar menguatkan sikap, pengetahuan, dan keterampilan peserta didik secara berimbang.Strategi pembelajaran berkembang sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, sosial, ekonomi yang semakin cepat.Teknik pembelajaran makin efektif seiring dengan penggunaan teknologi sesuai kebutuhan siswa bersaing pada konteks lokal, nasional, dan global.

Strategi Implementasi Kepemimpinan Pembelajaran Model kempemimpinan yang dinilai efektif menuruat Liontos, Lynn Balster (1992) adalah model kepemimpinan transformatif. Model ini diperkenalkan pertama kali oleh James McGregor Burns tahun 1978, selanjutnya dikembangkan oleh Bernard Bass.

Kepemimpinan transformatif merupakan kecakapan untuk menginspirasi pendidik dan tenaga kependidikan agar memiliki ketertarikan secara pribadi terhadap pencapaian tujuan organisasi.

Kepemimpinan transformatif lebih menekankan pada kualitas pribadi pemimpin dalam menunjukkan keteladanan. Implementasi model kepemimpinan yang lebih teknis yaitu model kepemimpinan fasilitatif.

Menurut Liontos mengutip definisi yang dirumuskan David Conley dan Paul Goldman (1994) dalam Modul Manajemen dan Kepemimpinan Sekolah (Pusbangtendik kemdikbud, 2015) menyatakan bahwa

kepemimpinan fasilitatif menunjukkan kapasitas kepala sekolah dalam meningkatkan kemampuan kolektif sekolah dalam beradaptasi, memecahkan masalah, dan meningkatkan kinerja. Kata kunci di sini adalah BERSAMA-SAMA.

Peran pemimpin fasilitatif yaitu mendorong keterlibatan semua pendidik dan tenaga kependidikan pada semua level pekerjaan.

Beberapa stategi kunci dalam peran pemimpin fasilitatif adalah mengatasi keterbatasan sumber daya, membentuk tim kerja, merumuskan umpan balik, berkoordinasi, dan manajemen konflik; mengembangkan jejaring komunikasi; berkolaborasi; dan membangun pemodelan implementasi visi sekolah

Model kepemimpinan transformasional dan kepemimpinan fasilitatif selanjutnya dijabarkan dalam bentuk tindakan praktis pada peran pemimpin pembelajaran dalam proses penyelarasan kerja sama kepala sekolah dengan guru, yaitu:

  1. menjadi pendengar;
  2. berbagi pengalaman;
  3. menggunakan contoh;
  4. memberikan peluang untuk memilih;
  5. menyikapi dengan arif kebijakan terdahulu;
  6. mendorong pendidik berani mengambil resiko;
  7. menyediakan sumber belajar untuk pengembangan keprofesian berkelanjutan .

Contoh tindakan dalam kegiatan supervisi sebagai yang diuraikan oleh Joseph Blase and Jo Blase (2003) dalam Modul Manajemen dan Kepemimpinan Sekolah (Pusbangtendik kemdikbud, 2015), dalam kegiatan sehari-hari kepala sekolah melakukan strategi berikut:

  1. Memberikan saran;
  2. Memberikan umpan balik terhadap aktivitas pendidik;
  3. Mengembangkan model;
  4. Menggunakan hasil riset;
  5. Meminta pendapat;
  6. Memberikan pujian atau penghargaan.

Dalam pengembangan moral kebersamaan kepala sekolah dapat memilih tindakan yang nyata yang ditunjukkan dalam aktivitas sebagai berikut;

  1. Meminta pendapat;
  2. Mendengarkan saran atau gagasan;
  3. Memberikan umpan balik;
  4. Berbagi pengalaman ;
  5. Mengembangkan contoh atau model;
  6. Memberi peluang untuk memimilih;
  7. Menyikapi kebijakan baru dengan arif;
  8. Memberi peluang kepada guru berani mengambil resiko;
  9. Menyediakan sumber belajar;
  10. Memberi pujian atau menghargai

Tulisan diambil dari  Modul Pelatihan Kurikulum 2013 bagi kepala Sekolah Tahun 2018 jenjang SMA Bahan Bacaan 1. Mengelola Implementasi Kurikulum 2013 hal 115-125

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s